Telefon Mengharukan dari Pengikut Gafatar
MEDAN - Handoko (21), warga Jalan Pringgan, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Deliserdang, Sumatera Utara, sedih ditinggal semuanya anggota keluarganya. Bapak, ibu, dan saudaranya yang lain pergi ke Pulau Kalimantan untuk berhimpun dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).
Handoko adalah anak pertama dari empat bersaudara pasangan Senan (45) serta Ati (42). Menurut pembicaraan Koko -sapaan akrab Handoko, cerita pilunya berlangsung mulai sejak ayahnya mengambil keputusan berhimpun dengan Gafatar.
Mulai sejak kepergian orang-tua beserta tiga adiknya yaitu Sahdan, Jaya, serta Anisa ke Kalimantan, mereka sekeluarga tetaplah melindungi komunikasi.
" Saya simpati dengan tindakan sosialnya, namun ajarannya tak benar rupanya. Beralih sesudah ikuti (Gafatar) itu, " ucap Koko, di Medan, Kamis (28/1/2016).
Sesudah memperoleh berita pembakaran permukiman eks anggota Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat, Koko kerap bertanya berita keluarganya. Mereka menjawab tak tinggal di daerah pembakaran itu.
" Saya ditinggal sendiri di Medan. Sedihlah ditinggal keluarga. Mereka disana melakukan aktivitas, berladang, pelihara ikan di kolam, serta bercocok tanam, " papar Koko.
Pas pada Selasa 26 Januari, ia memperoleh telefon dari ibunya yang bertanya apakah keluarga di Medan masihlah terima mereka.
" Ibu mengakui telah tak mempunyai apa-apa, serta bertanya apakah keluarga masihlah terima mereka, " ungkap Koko.
Sesudah terima telefon itu, Koko terasa begitu sedih, sembari mengharapkan keluarga mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment