Anggota DPR Korupsi, Presiden Vanuatu Bubarkan Parlemen
PORT VILA – Presiden Vanuatu, Baldwin Lonsdale, ambil langkah mengagetkan dengan membubarkan Parlemen Vanuatu, sesudah 14 anggotanya didakwa terima suap. Kondisi ini adalah lanjutan krisis politik yang berlangsung di negara berpenduduk sekira 250 ribu jiwa itu.
Beberapa anggota Parlemen Vanuatu sudah dijebloskan ke penjara mulai sejak bln. lantas, serta banding mereka tidak diterima. Mereka dipaksa mundur dari parlemen serta menyerahkan kendali parlemen pada grup oposisi. Lonsdale pada akhirnya mengambil keputusan untuk membubarkan parlemen sesudah tak dapat meraih perjanjian dengan grup oposisi di parlemen, sedang biaya negara belum juga disahkan.
Diluar itu, Lonsdale cemas bakal badai lain yang menempa Vanuatu sesudah Badai Pam yang meluluhlantakkan negara itu pada Maret. Bencana seperti itu memerlukan perlakuan yang cepat serta tidak bisa dikerjakan karenanya ada ketidakstabilan politik yang berlangsung di Vanuatu sekarang ini.
“Pemerintahan saat ini dalam mode pengasuhan lantaran demikian banyak menteri kabinet serta anggota parlemennya ada didalam penjara serta kalah banding pada Jumat 27 November. Jadi sudah ada laporan bahwa beberapa service negara tak memperoleh dana, namun seluruhnya cuma tentang peletakan di posisinya untuk th. depan serta meyakinkan hingga service pemerintah sekarang ini berlanjut ke 2016, ” kata bekas penasihat Pemerintah Vanuatu, Siobhan McDonnel, seperti ditulis The Diplomat, Selasa (1/12/2015).
Pada Oktober, satu dari 14 anggota Parlemen Vanuatu, yang juga menjabat juga sebagai juru bicara presiden Marcelino Pipite mengampuni dianya serta 13 anggota parlemen yang lain waktu Presiden Lonsdale tengah melawat ke luar negeri. Menurut undang-undang Vanuatu, waktu presiden tengah tidak hadir, juru bicaranya diijinkan untuk memegang kekuasaan sesaat. Lonsdale yang kembali pada Vanuatu menyebutkan kecewa dengan aksi Pipite serta menyampaikan bakal mengambil aksi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment