MUI Minta Pesantren Waspada LGBT
CIKARANG - Orang-orang disuruh lebih waspada pada masuknya kesibukan grup lesbian, gay, biseksual serta transgender (LGBT).
Bukanlah mustahil tingkah laku penyimpangan seksual ini masuk ke kelompok pondok pesantren. Lantaran penyebaran LGBT itu dinilai serupa dengan memahami aliran sesat yang gampang dipercayai oleh orang-orang, terlebih golongan muda.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi merasakan potensi masuknya LGBT ke lingkungan pesantren. Kampanye yang dikerjakan sampai kini supaya LGBT dilegalkan, mulai mencemaskan. Pasalnya, kampanye itu saat ini sudah banyak menimbulkan simpati dari orang-orang.
“Sekarang LGBT banyak berkampanye di beberapa media, bicara ke umum minta supaya pemerintah melegalkan mereka. Kampanye ini adalah sisi dari sebaran tingkah laku menyimpang. Berupaya mencapai simpati orang-orang. Walau sebenarnya terang tingkah laku mereka ini dilarang oleh agama namun sayangnya mereka jadi bangga serta memperjuangkan tingkah laku ini, ” tutur Ketua MUI Kabupaten Bekasi Nurul Anwar, Selasa tempo hari.
Disibakkan Nurul, MUI Kabupaten Bekasi belum temukan ada golongan LGBT di lingkungan pesantren. Tetapi tanda-tanda ke arah itu mulai diketemukan. Kesibukan menyimpang ini banyak menyasar anak muda termasuk juga beberapa santri yang mencari jati diri.
“Kalau temuan belum ada namun tetaplah mesti diwaspadai. Pada umumnya kan menyerang anak muda sedang pengajian banyak beberapa orang tua, ” kata dia.
Menurut Nurul, LGBT adalah golongan yang mempunyai penyimpangan tingkah laku sampai sakit pada segi kejiwaannya. Mereka butuh diobati dengan pendekatan keagamaan.
“LGBT sangatlah terang, tak perlu jadi masalah. Mereka yaitu orang yang butuh diperbaiki serta diobati. Ada yang sakitnya penyimpangann, ada yang sakitnya kejiwaan. Yang menyimpang itu yang sukai semacam tetapi yang telah sakitnya kejiwaan ini yang seperti transgender. Jadi mereka itu sangatlah menyimpang dari ajaran Islam. Mereka sadar kalau itu kekeliruan namun mereka bangga dengan perbuatan dosa, ” kata Nurul.
Kabupaten Bekasi juga dinilai riskan LGBT. Hal itu di pengaruhi dari tingginya akses info yang didapat. Diluar itu, LGBT juga masuk dari banyak orang-orang pendatang di Kabupaten Bekasi.
“Kabupaten Bekasi ini relatif tambah baik tehnologi infonya namun kekhawatirannya juga tinggi. Termasuk juga jalur urbanisasi dari orang-orang pendatang yang ke Bekasi. Sesungguhnya orang-orang Bekasinya bukan hanya ada yang masuk, ” kata dia.
Selanjutnya Nurul mengindikasi ada pihak yang menggerakkan golongan LGBT. Maksudnya adalah untuk mengakibatkan kerusakan akidah bangsa lewat tingkah laku menyimpang. Menurut Nurul, gosip LGBT juga saat ini sudah berhasil menukar semangat tiap-tiap orang untuk memberantas aliran sesat.
“Kami masihlah mengira ada pihak yang ada di belakang ini. Menariknya kenapa gosip LGBT ini keluarnya bersamaan dengan Gafatar. Kami dari MUI masihlah selalu membahas. LGBT bukanlah aliran namun apa yang dikerjakan sudah keluar ketentuan, ” kata dia.
(adt)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment