Kesulitan Keuangan, Militan ISIS Terkena Pemotongan Gaji
MOSUL – Grup teror ISIS sangat terpaksa memotong upah beberapa militannya sesudah diberitakan alami kesusahan keuangan lantaran kehilangan lokasi serta sumber finansialnya di Irak serta Suriah.
Menurut dokumen yang launching oleh instansi keuangan ISIS, Bayt al Mal, beberapa militan ISIS saat ini cuma memperoleh 100 poundsterling atau sekira Rp1, 9 juta per bulannya lantaran “keadaan luar biasa”. Jumlah itu cuma 1/2 dari upah yang umum mereka peroleh pada awal mulanya.
Kondisi itu yaitu akibatnya karena serangan-serangan hawa yang dilancarkan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) serta Rusia yang membidik jalur penjualan minyak ISIS. Serangan koalisi beberapa waktu terakhir bahkan juga markas pusat Bayt al Mal di Mosul serta menghancurkan persediaan duit sejumlah jutaan dolar yang tersimpan disana.
“Ada tanda-tanda awal bahwa ISIS kesusahan untuk menyeimbangkan biaya karenanya ada laporan pemotongan upah untuk beberapa militan, kenaikan harga listrik, serta sebagian service basic yang lain, serta diperkenalkannya pajak pertanian baru, ” kata pakar dari perusahaan analis IHS, Columb Strack yang ditulis oleh Mirror, Senin (18/1/2016).
Bln. lantas ISIS dilaporkan beroleh dana sebesar USD80 juta (Rp 1, 1 triliun) dari pajak, penjualan minyak, serta perdagangan obat bius. Namun, sebagai grup militant yang menggerakkan suatu negara, pengeluaran mereka juga tak kalah besar.
Kesusahan keuangan ini dapat adalah efek dari rangkaian kekalahan yang menyebabkan hilangnya lokasi yang mereka kuasai terlebih Ramadi serta banyak wilayah yang lain di Irak.
“Meskipun ISIS bisa kembali menghasilkan minyak, mereka kehilangan akses yang gampang ke Turki sesudah kekalahan di Tal Abyad serta usaha otoritas Turki untuk hentikan penyelundupan di perbatasan Suriah, ISIS makin tergantung pada pasar internal di Suriah serta Irak untuk jual serta menyelundupkan minyak, ” ujarnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment