Jurus Jitu ITS Hadapi MEA
JAKARTA – Masuk 2016, Indonesia mulai hadapi Orang-orang Ekonomi ASEAN (MEA). Berarti, siap atau tak semua orang-orang selekasnya hadapi masuknya tenaga kerja asing ke Tanah Air.
Persiapan hadapi MEA juga telah dikerjakan oleh Institut Tesknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ketua Senat Akademis ITS, Profesor Ir Priyo Suprobo M. Sc, Ph. D, menjelaskan bahwa satu diantara kiat ITS hadapi MEA yaitu lakukan internasionalisasi, mulai kurikulum sampai kwalitas lulusan yang dapat berkompetisi dengan cara global.
Sedang Rektor ITS, Profesor Joni Hermana M. Sc, E. S, Ph. D, memiliki pendapat hadirnya MEA pantas disikapi dengan bijaksana. Karena, jangan sempat anak bangsa tidak dapat berkompetisi di negeri sendiri.
" Walau sebenarnya, MEA menuntut kita untuk menunjukkan sejauh mana bisa jadi tuan tempat tinggal di negeri sendiri, namun masih tetap dapat berkompetisi di negeri orang, " katanya, seperti diambil dari laman resmi ITS, Senin (4/1/2016).
ITS, kata Joni, telah mempunyai empat jurusan yang terakreditas ASEAN University Network (AUN). Dia menjelaskan, akreditasi institut dengan cara internasional itu jadi satu diantara langkah strategis ITS agar kampusnya dapat disejajarkan dengan kampus lain yang ada di ASEAN.
Pria yang mencapai gelar S-3 di Inggris itu menuturkan, ITS yang telah dinobatkan juga sebagai perguruan tinggi tubuh hukum (PTN-BH) dituntut untuk masuk deretan kampus kelas dunia. Tetapi, harapan ini masih tetap alami masalah karena terbatasnya cost, terutama dalam lakukan riset.
" ITS juga dituntut lakukan inovasi serta kreatifitas hadapi tantangan itu. Kita berupaya lakukan kerjasama penelitian dengan kampus luar negeri. Jadi, kita mengusulkan inspirasi serta mereka menolong lakukan riset, " tuturnya.
Terkecuali langkah kerjasama, Joni juga mendorong beberapa mahasiswa untuk memersiapkan diri, satu diantaranya ikuti sertifikasi profesi insinyur yang tengah dikerjakan Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
" Mahasiswa juga mesti membekali diri dengan attitude serta soft skill yang baik, termasuk juga kekuatan berbahasa serta berkomunikasi. Langkahnya, banyak berhubungan dengan mahasiswa asing, ataupun ikuti seminar serta aktivitas sosial. Aktivitas kaderisasi juga mesti mensupport hal semacam ini, " ucap pria kelahiran Bandung itu.
Joni memberikan, ITS sudah banyak bekerja bersama dengan institusi asing untuk menggerakkan sebagian program pertukaran pelajar serta double degree. " Dengan program double degree, mahasiswa terus bisa beroleh kwalitas pendidikan yang baik walau dengan fasilitas terbatas, " tukasnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment