Suka-Duka Yuli Mengajar di SLB Bhakti Pertiwi
YOGYAKARTA – Lulus dari Jurusan Pendidikan Luar Umum Fakultas Pengetahuan Pendidikan Kampus Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2003, Yuliati melamar juga sebagai pengajar di Sekolah Luar Umum (SLB) Bhakti Pertiwi. Dia juga di terima juga sebagai pengajar di sekolah disabilitas yang ada di Candirejo, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, itu.
Awal mengajar pada 27 Desember 2003, Yuli baru hanya guru honor dengan upah jauh dari cukup. Dia mengungkap sangatlah berat melakukan kehidupan baru jadi guru SLB waktu itu.
" Awal-awal dahulu berat, serbakurang. System pendidikan yang diaplikasikan juga kurang baik, begitupun tidak ada perhatian dari pemerintah desa, saya pernah ingin keluar lantaran tidak kuat, " ungkap Yuli saat didapati Sikibet pas di Hari Disabilitas Internasional, Kamis (3/12/2015).
Walau berat, Yuli bertahan untuk mengamalkan ilmunya. Dengan membawa semangat dedikasi, dia melakukan dengan serba-kekurangan. Dia juga memikirkan pengetahuan yang didapat dari universitas tak ada fungsinya bila tak diimplementasikan dalam kehidupan riil.
" Saya pernah memikirkan ingin geser ke tempat yang tambah baik, namun hati kecil saya berkata : Ini anak-anak perlu saya, mereka memerlukan pendidikan yang baik. Pada akhirnya saya lakoni dengan ikhlas, " tuturnya.
Yuli menyampaikan memperoleh banyak pengetahuan waktu hadapi segera siswa difabel. Apa yang tercatat di bangku kuliah, tak demikian saja bisa diaplikasikan di sekolah.
" Saat kita kuliah dengan bertemu riil pada siswa itu tidak sama. Contoh dari cara A, untuk menangani siswa autis mesti pendekatan ini-itu, namun saat bertemu segera, terkadang pendekatan yang di ajarkan tidak mempan, perlu trick lain, " tuturnya.
Karenanya, warga Tunjung, Selomartani, Kalasan, ini malah tertantang untuk belajar berbarengan. Banyak asam-garam dalam melakukan kehidupan juga sebagai guru. Tantangan itu dihadapi tanpa ada capek.
Bersamaan berjalannya saat, ada pendaftaran CPNS saat itu. Yuli ikuti tes hingga pada 2008 diangkat juga sebagai PNS. Dari segi pendapatan, nasib mulai baik lantaran pendapatan semakin besar, telah dijamin pemerintah.
Sampai 2015, dia terus mengajar. Dia di beri mandat untuk mengajar pada klas V serta VI. Ada satu hal yang tidak dapat dikerjakannya pada siswanya, yaitu geram.
" Kita tidak dapat geram sama mereka, kelakuannya juga lucu. Contoh, ada anak tunagrahita bertingkah aneh, seperti orang mabuk. Waktu di tanya, dijawab : ‘Bok bok (mabuk) ’, " tuturnya.
Anak itu, kata Yuli, nyatanya mengikuti apa yang dikerjakan ayahnya yang tengah mabuk minuman keras dirumah. Style jalan, mimik muka, dan ke-2 tangan juga menunjukkan orang yang dipengaruhi minuman keras.
" Jalan juga sempoyongan. Itu kita beri pemahaman supaya tak lakukan hal yang sama dengan ayahnya. Kita tidak dapat geram. Bila mereka salah, kita ingatkan, " kata ibu satu anak ini.
Sepanjang 16 th. telah ditempuh juga sebagai guru SLB. Yuli lihat ada banyak masalah yang dihadapi sekolah yang terakreditasi A itu. Masalah itu mesti dikelola dengan bijak supaya tak jadi penghalang dalam mengabdi untuk bangsa.
Misalnya, transportasi. Siswa masih tetap kesusahan akses serta mesti diantar pihak keluarga atau bahkan juga ndompleng guru waktu pergi serta pulang sekolah. Masalah lain, kerelaan orang-tua siswa untuk menyekolahkan anak berkebutuhan spesial.
" Terkadang jadi orang-tua tidak ikhlas anaknya sekolah di SLB. Mereka inginkan sekolah umum (umum), namun anaknya tidak dapat ikuti akademik, " tuturnya.
Karenanya, pihaknya seringkali lakukan sosialisasi pada orang-orang. Bahkan juga, pendekatan personal dikerjakan guru dengan mendatangi rumah calon siswa untuk belajar. Terutama, sekolah di SLB ini tidak dipungut cost dengan kata lain gratis.
Ada 17 guru dengan siswa sejumlah 67 orang. Tetapi, siswa yang umum masuk aktif sekira 40–45 orang /hari. Ketiadaan transportasi serta tak ada yang mengantar siswa ke sekolah jadi aspek terpenting siswa tidak datang.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment