PBB Sambut Baik Kesepakatan Jepang-Korsel soal Perbudakan Seks
NEW YORK - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyongsong baik perjanjian yang diraih oleh Pemerintah Jepang serta Korea Selatan tentang perbudakan sex wanita Korea oleh Jepang pada saat perang.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan Yun Byung-se serta timpalannya dari Jepang Fumio Kishida pada Senin pagi bersua di Ibu Kota Korea Selatan, Seoul, untuk merampungkan sengketa lama tentang permasalahan wanita penghibur, ungkapan buat wanita Korea yang dipaksa bekerja dirumah bordil militer Jepang sepanjang Perang Dunia II.
Ke-2 negara itu meraih perjanjian tentang permasalahan ini sesudah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengemukakan keinginan maaf atas kejahatan itu. Abe mengemukakan keinginan maaf serta penyesalan dari lubuk hati untuk kebanyakan orang yang menanggung derita banyak rasa sakit serta luka yang susah diobati baik dengan cara fisik ataupun psikologis.
" Sekretaris Jenderal mengharapkan perjanjian ini bakal berikan sumbangan untuk penambahan jalinan bilateral pada ke-2 negara, " sekian diantaranya isi pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara Ban Ki-moon. " Sekretaris Jenderal sudah menyatakan utamanya seluruhnya negara Asia Timur-laut untuk bangun jalinan yang bertujuan hari esok, dengan basic pernyataan histori, " kata pernyataan ini.
Perjanjian itu bisa dilihat juga sebagai perkembangan dalam jalinan Tokyo-Seoul karena permasalahan ini sudah bikin tegang jalinan bilateral mereka sepanjang sebagian dasawarsa. Perjanjian itu menandai untuk pertama kalinya Pemerintah Jepang " dengan cara resmi " sudah mengemukakan tanggung jawabnya untuk kejahatan perang.
Jepang sepakat tawarkan duit dari kocek pemerintahnya untuk menolong Korea Selatan bikin landasan yang mensupport bekas budak sex. Ini juga menyatakan bahwa permasalahan itu pada akhirnya dikerjakan serta takkan beralih.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment